Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belajar dari Kasus Daycare Viral: Mengapa Anak Butuh "Calm but Firm Parenting", Bukan Sekadar Gentle Parenting?

Seorang ibu menerapkan pola asuh calm but firm parenting dengan berbicara lembut namun tegas kepada anak perempuan di ruang keluarga

Belakangan ini, lini masa kita dihebohkan oleh kabar kelanjutan sidang kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha. Kasus ini sontak memicu kemarahan, kesedihan, sekaligus kekhawatiran massal bagi kita semua, khususnya para orang tua bekerja yang terpaksa menitipkan buah hatinya.

Namun, di samping tuntutan hukum yang sedang berjalan, kasus ini juga membuka mata para praktisi psikologi anak mengenai satu hal penting: bagaimana kita membekali anak agar tangguh dan mampu melindungi diri mereka sendiri sejak dini?

Di tengah gelombang gentle parenting yang beberapa tahun terakhir ini sangat populer, momentum bulan ini justru menjadi titik balik bagi banyak orang tua untuk beralih ke metode yang lebih seimbang, yaitu Calm but Firm Parenting.

Mengapa Gentle Parenting Saja Tidak Cukup?

Selama ini, kita mengenal gentle parenting sebagai metode yang mengedepankan kelembutan, menghindari amarah, dan memvalidasi setiap emosi anak. Tentu saja, ini adalah niat yang sangat baik untuk memutus rantai trauma masa lalu.

Namun, dalam praktiknya di lapangan, banyak orang tua yang tanpa sadar terjebak menjadi orang tua permisif.

  • Takut membuat anak menangis atau kecewa.
  • Selalu menuruti kemauan anak demi menghindari konflik.
  • Mengaburkan batasan (boundaries) antara apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Dampaknya? Anak tumbuh tanpa pemahaman yang jelas tentang aturan. Ketika mereka dihadapkan pada dunia luar—baik itu di sekolah, lingkungan bermain, atau tempat penitipan anak—mereka bisa menjadi bingung, rentan, atau justru kesulitan mengekspresikan penolakan ketika hak atau kenyamanan mereka dilanggar oleh orang lain.

Apa Itu Calm but Firm Parenting?

Menanggapi fenomena ini, para pakar parenting kini gencar mengampanyekan pendekatan Calm but Firm (Tenang namun Tegas). Pola asuh ini tidak menggunakan kekerasan atau bentakan, tetapi menuntut konsistensi dan batasan yang jelas.

Ada dua pilar utama dalam metode ini:

1. Calm (Tenang)

Saat anak berbuat salah, menangis histeris, atau melanggar aturan, orang tua meresponsnya dengan kepala dingin. Kita tidak ikut berteriak atau menggunakan kekerasan fisik. Validasi emosinya terlebih dahulu, misalnya: "Ibu tahu kamu kecewa karena tidak boleh main HP sekarang."

2. Firm (Tegas)

Setelah emosinya divalidasi, aturan tetap harus ditegakkan tanpa negosiasi yang merusak prinsip. "Tapi aturannya sudah habis waktunya, jadi HP-nya Ibu simpan ya." Tegas di sini berarti memberikan batasan yang konsisten, sehingga anak tahu bahwa ada hal-hal di dunia ini yang memiliki konsekuensi.

Hubungannya dengan Perlindungan Diri Anak

Apa kaitannya pola asuh tegas ini dengan keamanan anak di luar rumah, seperti di lingkungan daycare atau sekolah?

Ketika kita menerapkan Calm but Firm Parenting, kita sebenarnya sedang mengajarkan konsep otoritas yang sehat dan batasan diri (boundaries) kepada anak.

  • Anak Tahu Konsep Hak dan Aturan: Anak yang terbiasa dengan batasan yang jelas di rumah akan lebih peka ketika ada orang lain yang memperlakukan mereka di luar batas kewajaran.
  • Melatih Keberanian Mengatakan "Tidak": Dengan mengajarkan ketegasan yang sehat, anak juga belajar untuk bersikap tegas terhadap tubuh dan kenyamanan mereka sendiri. Mereka tidak tumbuh menjadi people pleaser yang takut menolak perlakuan buruk orang lain.

 

Kasus hukum yang menimpa Daycare Little Aresha adalah pengingat pahit bagi kita semua untuk lebih selektif dan waspada. Namun di sisi internal keluarga, ini adalah momen bagi kita untuk merefleksikan kembali cara kita mendidik anak.

Menyayangi anak bukan berarti membebaskan mereka tanpa arah. Menjadi tegas bukan berarti kita tidak sayang. Justru dengan memberikan batasan yang jelas dan melatih mental yang tangguh sejak dini, kita sedang memberikan perisai terbaik bagi mereka untuk menghadapi dunia luar yang tidak selamanya ramah.

 

Bagaimana tanggapan Parents mengenai pergeseran tren pola asuh ini? Apakah Parents sudah mulai menerapkan batasan yang tegas di rumah? Yuk, berbagi cerita di kolom komentar!


Post a Comment for "Belajar dari Kasus Daycare Viral: Mengapa Anak Butuh "Calm but Firm Parenting", Bukan Sekadar Gentle Parenting?"