Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

P5 Sudah Berganti Jadi Kegiatan Kokurikuler — Ini Perubahannya dan Cara Merancangnya agar Tetap Bermakna

P5 Sudah Berganti Jadi Kegiatan Kokurikuler — Ini Perubahannya dan Cara Merancangnya agar Tetap Bermakna

Istilah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) masih sangat familiar di kalangan guru, tapi perlu diketahui: sejak terbitnya Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tentang pembelajaran mendalam (deep learning), kerangka besarnya sudah mengalami penyempurnaan. Profil Pelajar Pancasila berganti istilah menjadi Profil Lulusan, dan Panduan Kokurikuler 2025 yang diterbitkan BSKAP secara resmi menggantikan panduan P5 sebelumnya.

Perubahan ini bukan sekadar ganti nama di atas kertas — ada pergeseran pendekatan yang cukup signifikan, dan penting bagi guru maupun operator sekolah untuk memahaminya sebelum merancang kegiatan penguatan karakter di tahun ajaran berjalan. Artikel ini membahas apa saja yang berubah, dan cara merancang kegiatan kokurikuler yang tetap bermakna di bawah kerangka baru ini.

Apa yang Sebenarnya Berubah

Dari 6 Dimensi Jadi 8 Dimensi Profil Lulusan

Profil Pelajar Pancasila sebelumnya memuat enam dimensi. Di bawah kerangka Profil Lulusan, jumlahnya bertambah jadi delapan: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Dua dimensi yang ditambahkan — kesehatan dan komunikasi — mencerminkan perhatian yang lebih eksplisit terhadap aspek yang sebelumnya kurang tercakup secara langsung.

Istilah "Projek" Tidak Lagi Dipakai sebagai Nama Utama

Kegiatan yang dulu disebut "projek" dengan P sebagai inti kegiatannya, kini masuk ke dalam kerangka yang lebih luas bernama kegiatan kokurikuler — penghubung antara pembelajaran di kelas dan pengalaman nyata murid. Kegiatan berbasis projek skala kecil tetap bisa dilakukan sebagai salah satu bentuk kokurikuler, tapi tidak lagi menjadi satu-satunya cara, apalagi kewajiban tunggal berskala besar seperti P5 sebelumnya.

Alokasi Waktu Tidak Lagi Kaku

P5 sebelumnya mewajibkan alokasi minimal sekitar 20% dari total jam pelajaran per tahun untuk kegiatan projek. Di bawah kerangka kokurikuler yang baru, tidak ada lagi angka wajib yang kaku semacam itu — sekolah diberi keleluasaan lebih besar menentukan model pelaksanaan yang sesuai dengan konteks dan kapasitasnya masing-masing.

Pencapaian Dimensi Tidak Lagi Bergantung pada Satu Kegiatan Besar

Kalau sebelumnya P5 mengandalkan satu projek besar sebagai wadah utama pencapaian dimensi, pendekatan Profil Lulusan 8 Dimensi mendorong pencapaiannya lewat kombinasi pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya sekolah secara keseluruhan — tidak terpusat pada satu bentuk kegiatan saja.

Dasar Regulasi

Perubahan ini berlandaskan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, yang mengubah ketentuan dalam Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum. Penting dicatat, ini bukan kurikulum yang sama sekali baru — Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 tetap jadi acuan, dan Permendikdasmen ini sifatnya menyempurnakan, bukan menggantikan total. Panduan teknis pelaksanaannya tertuang dalam Panduan Kokurikuler 2025 yang diterbitkan BSKAP.

Catatan kejujuran: peralihan istilah dan pendekatan ini masih tergolong baru, dan penerapannya di lapangan kemungkinan bervariasi antar sekolah selama masa transisi. Untuk kepastian penuh soal teknis pelaksanaan di satuan pendidikan Anda, sangat disarankan merujuk langsung ke naskah resmi Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 dan Panduan Kokurikuler 2025 di portal JDIH Kemendikdasmen, atau menanyakan ke dinas pendidikan setempat.

Cara Merancang Kegiatan Kokurikuler yang Tetap Bermakna

Prinsip-prinsip yang dulu membuat P5 berjalan bermakna (bukan sekadar formalitas) sebagian besar tetap relevan di bawah kerangka kokurikuler yang baru — hanya saja kini bisa diterapkan dengan lebih fleksibel, tidak harus lewat satu projek besar.

Mulai dari Isu Nyata di Lingkungan Siswa

Pilih konteks kegiatan yang benar-benar relevan dengan lingkungan sekitar siswa — isu pengelolaan sampah di sekolah, kebiasaan jajan yang kurang sehat, atau isu sosial di komunitas sekitar — dibanding sekadar mengikuti tema yang umum dipakai sekolah lain. Kedekatan dengan konteks nyata membuat siswa lebih terlibat secara emosional.

Rancang Dimensi Profil Lulusan Secara Sengaja, Bukan Sekadar Dicantumkan

Untuk setiap kegiatan kokurikuler, tentukan secara eksplisit dimensi profil lulusan apa yang sedang dilatih dan lewat aktivitas konkret seperti apa — termasuk dua dimensi baru, kesehatan dan komunikasi, yang sebelumnya kurang mendapat ruang eksplisit di P5. Misalnya, dimensi kesehatan bisa dilatih lewat kampanye pola makan sehat atau kegiatan fisik rutin, bukan sekadar disisipkan sebagai materi satu arah.

Manfaatkan Fleksibilitas Waktu untuk Kegiatan yang Lebih Beragam

Tanpa kewajiban alokasi 20% JP yang kaku, sekolah punya ruang merancang kegiatan kokurikuler dalam skala yang lebih beragam — bisa berupa kegiatan singkat rutin mingguan, bisa juga projek yang lebih kecil dan terfokus, dibanding harus selalu memaksakan satu projek besar yang menyita banyak waktu dan sering membebani siswa maupun orang tua.

Integrasikan dengan Pembelajaran Intrakurikuler, Jangan Berdiri Sendiri

Karena pencapaian dimensi profil lulusan kini tidak lagi mengandalkan satu kegiatan terpisah, kaitkan kegiatan kokurikuler dengan apa yang sedang dipelajari siswa di kelas reguler. Ini membuat penguatan karakter terasa menyatu dengan proses belajar sehari-hari, bukan kegiatan tempelan yang terasa terpisah dari pembelajaran inti.

Tetap Sisipkan Ruang Refleksi di Sepanjang Proses

Terlepas dari perubahan format, ruang refleksi bagi siswa tetap jadi elemen penting yang sebaiknya tidak dilewatkan — baik dalam kegiatan kokurikuler berskala kecil maupun besar, refleksi membantu siswa benar-benar menginternalisasi pembelajaran dari proses yang dijalaninya.

Peralihan dari P5 ke kerangka Profil Lulusan 8 Dimensi dengan kegiatan kokurikuler yang lebih fleksibel membuka ruang bagi sekolah untuk merancang penguatan karakter siswa dengan cara yang lebih beragam dan terintegrasi, tidak lagi terpaku pada satu bentuk projek besar yang kaku. Prinsip dasarnya tetap sama — kegiatan yang relevan dengan konteks nyata siswa, dimensi yang dirancang secara sengaja, dan ruang refleksi yang cukup — hanya saja kini bisa dijalankan dengan format yang lebih luwes sesuai kapasitas masing-masing sekolah.

Posting Komentar untuk "P5 Sudah Berganti Jadi Kegiatan Kokurikuler — Ini Perubahannya dan Cara Merancangnya agar Tetap Bermakna"