Anak Tidak Betah Membaca 5 Menit? Kenali 7 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Pernah mengajak anak membaca buku, tetapi baru beberapa halaman sudah muncul kalimat:
“Sudah selesai belum?”
Atau anak baru duduk beberapa menit kemudian mencari alasan untuk pergi, meminta HP, mengambil mainan, atau melakukan aktivitas lain.
Kondisi seperti ini sering membuat orang tua khawatir. Apalagi ketika melihat anak bisa bertahan cukup lama menonton video atau bermain gim, tetapi tidak betah membaca buku selama 5 menit.
Namun, orang tua tidak perlu langsung memberi label anak sebagai malas.
Ada banyak kemungkinan di balik kebiasaan tersebut. Bisa jadi bukunya tidak sesuai minat, kemampuan membaca belum sejalan dengan tingkat buku, lingkungan terlalu banyak gangguan, atau anak memang sudah terbiasa dengan hiburan digital yang memberikan rangsangan cepat.
Kemendikdasmen sendiri menekankan pentingnya mengatur penggunaan gawai karena penggunaan yang tidak tepat dapat menjadi distraksi dan memengaruhi konsentrasi belajar. Kebijakan pemerintah menegaskan bahwa pembatasan gawai bukan pelarangan total, melainkan pengaturan penggunaan secara bijaksana.
Jadi, sebelum mengatakan “anak saya malas membaca”, lebih baik cari tahu penyebabnya terlebih dahulu.
Kenapa Anak Tidak Betah Membaca?
Minat baca tidak muncul secara otomatis.
Balai Bahasa Provinsi Aceh menjelaskan bahwa minat baca anak berkembang melalui pengalaman literasi yang positif, berulang, dan bermakna. Salah satu praktik yang dapat dilakukan keluarga adalah membaca nyaring atau shared book reading, yaitu kegiatan membaca yang melibatkan buku, percakapan, imajinasi, dan kedekatan emosional orang tua dengan anak.
Karena itu, pengalaman pertama anak dengan buku sangat penting.
Jika membaca selalu identik dengan tugas, teguran, atau kewajiban, anak bisa memandang buku sebagai sesuatu yang melelahkan.
Sebaliknya, jika buku dikaitkan dengan cerita menarik, percakapan, dan waktu bersama orang tua, anak lebih mudah membangun hubungan positif dengan membaca.
1. Bukunya Tidak Sesuai dengan Minat Anak
Ini merupakan salah satu penyebab yang paling sering diabaikan.
Orang tua mungkin memilih buku yang menurut mereka bagus, tetapi anak ternyata sama sekali tidak tertarik.
Anak yang menyukai hewan mungkin akan lebih antusias membaca buku tentang dinosaurus daripada cerita panjang tentang tokoh yang tidak dikenalnya.
Anak yang menyukai kendaraan mungkin lebih tertarik pada buku tentang mobil, kereta, pesawat, atau alat berat.
Cara mengatasinya
Berikan beberapa pilihan.
Misalnya:
“Kamu mau pilih buku tentang dinosaurus atau luar angkasa?”
Biarkan anak menentukan sendiri.
Target awalnya bukan membuat anak membaca buku paling sulit.
Target awalnya adalah membuat anak mau membuka buku tanpa merasa dipaksa.
2. Tingkat Kesulitan Buku Terlalu Tinggi
Ada anak yang sebenarnya ingin membaca, tetapi teks yang diberikan terlalu sulit.
Bayangkan anak masih terbata-bata membaca, tetapi diberi buku dengan paragraf panjang dan banyak kata yang belum dipahami.
Anak akhirnya lelah.
Bukan karena tidak suka membaca, tetapi karena membaca membutuhkan usaha terlalu besar.
Tanda buku mungkin terlalu sulit
Anak terlalu sering berhenti.
Anak terus bertanya arti setiap kata.
Anak meminta orang tua membacakan hampir semua kalimat.
Anak cepat kehilangan perhatian.
Anak terlihat frustrasi ketika membaca.
Solusinya
Turunkan tingkat kesulitan.
Gunakan buku dengan:
- gambar lebih banyak;
- kalimat lebih pendek;
- teks lebih besar;
- cerita sederhana;
- topik yang sudah dikenal anak.
Ketika kemampuan meningkat, tingkat kesulitan dapat dinaikkan perlahan.
3. Anak Sudah Terbiasa dengan Rangsangan Cepat dari HP
Ini juga perlu diperhatikan.
Video pendek, gim, dan berbagai aplikasi digital dapat memberikan perubahan gambar, suara, dan respons secara cepat.
Sementara membaca buku membutuhkan anak untuk duduk, melihat teks, memahami kalimat, dan membangun gambaran dalam pikirannya.
Kemendikdasmen menyebut penggunaan gawai yang tidak dikelola dengan baik berpotensi mengurangi konsentrasi belajar dan meningkatkan berbagai risiko lain bagi anak. Karena itu pemerintah mendorong pembatasan penggunaan gawai secara bijaksana, bukan pelarangan total.
Apa yang bisa dilakukan?
Jangan tiba-tiba menyita HP sepanjang hari.
Lebih baik membuat aturan yang konsisten.
Misalnya:
waktu belajar → tanpa hiburan digital
waktu membaca → tanpa notifikasi
waktu makan → tanpa HP
menjelang tidur → simpan gawai
Kemudian sediakan kegiatan pengganti.
Anak yang hanya kehilangan HP tanpa mendapatkan alternatif kegiatan justru lebih mudah merasa frustrasi.
4. Anak Menganggap Membaca sebagai Tugas
Coba ingat-ingat, bagaimana biasanya orang tua menyuruh anak membaca?
Apakah dengan kalimat:
“Ayo baca! Besok ada tugas!”
atau:
“Kalau tidak mau membaca, nanti tidak boleh main!”
Kalau hampir setiap pengalaman membaca selalu berupa kewajiban, anak dapat menganggap buku sebagai bagian dari tugas sekolah.
Padahal membaca bisa menjadi aktivitas santai.
Ubah suasananya
Daripada mengatakan:
“Baca buku sekarang!”
coba:
“Mau Mama bacakan cerita sebelum tidur?”
Atau:
“Kita cari tahu kenapa dinosaurus bisa punah, yuk.”
Perubahan kecil dalam cara memperkenalkan buku bisa membuat pengalaman membaca terasa berbeda.
5. Anak Belum Mendapat Contoh dari Orang Tuanya
Anak sering belajar dari apa yang dilihat.
Kalau orang tua terus berkata:
“Jangan main HP!”
tetapi dirinya sendiri selalu memegang telepon, pesan tersebut mudah kehilangan kekuatan.
Sebaliknya, cobalah menciptakan waktu ketika orang tua juga membaca.
Tidak harus buku pendidikan.
Bisa novel, majalah, koran, atau bacaan yang memang disukai.
Kemudian duduk bersama anak.
Ayah membaca.
Ibu membaca.
Anak membaca.
Tidak perlu banyak nasihat.
Biarkan anak melihat bahwa membaca memang bagian dari kehidupan keluarga.
6. Lingkungan Membaca Terlalu Banyak Gangguan
Anak sulit fokus membaca ketika televisi menyala, saudara bermain di dekatnya, notifikasi HP terus berbunyi, atau orang tua berbicara di sebelahnya.
Akhirnya anak terlihat seperti tidak betah membaca.
Padahal lingkungannya memang tidak mendukung konsentrasi.
Coba buat “sudut baca”
Tidak harus membuat perpustakaan di rumah.
Sebuah meja kecil, beberapa buku, pencahayaan yang cukup, dan tempat duduk yang nyaman sudah cukup.
Pada waktu membaca:
TV dimatikan.
Notifikasi HP dimatikan.
Mainan yang tidak diperlukan disimpan.
Orang tua ikut menemani.
Kondisi yang lebih tenang membantu anak memahami bahwa waktu membaca memang berbeda dari waktu bermain.
7. Orang Tua Terlalu Cepat Menuntut Hasil
Ini adalah kesalahan yang cukup umum.
Anak baru mulai membaca selama beberapa hari, kemudian orang tua sudah menargetkan:
“Harus selesai satu buku!”
Padahal membangun kebiasaan membutuhkan waktu.
Jika hari pertama anak mampu membaca 5 menit dengan tenang, itu sebenarnya sudah menjadi langkah.
Jangan langsung membandingkannya dengan anak lain yang bisa membaca 30 menit.
Gunakan target kecil
Misalnya:
Hari 1–7: 5–10 menit.
Minggu kedua: 10–15 menit.
Minggu ketiga: 15–20 menit.
Durasi dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
Yang penting adalah konsistensi, bukan memaksakan durasi panjang.
Kalau Anak Baru Membaca 5 Menit Sudah Bosan, Haruskah Dipaksa?
Tidak selalu.
Perhatikan dahulu penyebabnya.
Jika anak baru mulai membangun kebiasaan membaca, target 5–10 menit mungkin sudah cukup.
Namun jangan langsung membiarkan anak memilih HP setiap kali bosan.
Misalnya anak berkata:
“Aku sudah bosan.”
Orang tua dapat menjawab:
“Baik, kita berhenti sebentar. Setelah itu pilih satu halaman lagi yang mau kamu baca.”
Dengan demikian anak belajar bahwa merasa bosan itu normal, tetapi bukan berarti setiap kali bosan harus langsung pindah ke hiburan digital.
Coba Gunakan Metode Membaca Nyaring
Salah satu cara yang dapat dicoba adalah membaca nyaring bersama.
Orang tua dapat membaca cerita dengan ekspresi suara, kemudian mengajak anak melihat gambar dan memberikan pertanyaan sederhana.
Misalnya:
“Menurut kamu, setelah ini apa yang terjadi?”
atau:
“Kalau kamu jadi tokohnya, kamu akan bagaimana?”
Balai Bahasa Provinsi Aceh menjelaskan bahwa shared book reading dapat menciptakan interaksi antara buku, bahasa, percakapan, imajinasi, dan kedekatan emosional orang tua dengan anak.
Cara ini terutama cocok untuk anak yang belum nyaman membaca secara mandiri.
Jangan Hanya Meminta Anak Membaca dari Awal Sampai Akhir
Ada cara lain yang menarik.
Buka buku dari halaman yang memiliki gambar paling menarik.
Baca bagian pendek.
Kemudian berhenti.
Tanyakan pendapat anak.
Lanjutkan lagi.
Metode seperti ini membuat anak merasa terlibat.
Anak tidak hanya menjadi pendengar atau pembaca pasif.
Ia ikut membuat prediksi, menjawab pertanyaan, dan membangun cerita.
Bagaimana Menggabungkan Membaca dengan HP?
Tidak perlu selalu mempertentangkan buku dan teknologi.
Gunakan rasa penasaran anak sebagai pintu masuk.
Misalnya anak suka:
dinosaurus → tonton video singkat → lanjutkan membaca buku dinosaurus.
luar angkasa → lihat gambar planet → baca buku tata surya.
hewan → lihat dokumentasi → cari buku tentang habitat hewan.
Dengan begitu, HP bisa menjadi jembatan menuju bacaan, bukan selalu penghalang.
Tetap perlu batasan agar waktu digital tidak mengambil alih seluruh kegiatan.
Jangan Membuat Anak Merasa “Tidak Pintar” Karena Tidak Suka Membaca
Hindari kalimat:
“Kamu memang malas.”
“Lihat kakakmu bisa membaca.”
“Temanmu sudah selesai, kamu belum.”
Kalimat tersebut tidak menyelesaikan masalah.
Justru anak dapat merasa membaca adalah sesuatu yang membuat dirinya selalu gagal.
Lebih baik katakan:
“Kita cari buku yang lebih cocok.”
atau:
“Kita coba sedikit-sedikit dulu.”
Tujuannya adalah menjaga kepercayaan diri anak.
Kapan Orang Tua Perlu Memperhatikan Lebih Serius?
Bila anak terus mengalami kesulitan membaca meskipun sudah mendapatkan dukungan, perhatikan juga kondisi belajarnya secara lebih menyeluruh.
Misalnya, apakah anak sangat kesulitan mengenali huruf, menggabungkan bunyi, memahami bacaan sederhana, atau menunjukkan frustrasi yang terus-menerus setiap kali diminta membaca.
Jangan langsung menyimpulkan anak malas atau tidak mau belajar.
Bicarakan dengan guru untuk mengetahui apakah kesulitan tersebut berkaitan dengan proses pembelajaran yang membutuhkan dukungan tambahan.
Jika diperlukan, orang tua dapat mencari bantuan profesional yang sesuai.
Rutinitas Membaca 15 Menit yang Bisa Dicoba di Rumah
Berikut contoh yang sangat sederhana:
Menit 1–2: anak memilih buku.
Menit 3–7: orang tua dan anak membaca bersama.
Menit 8–10: berhenti dan membicarakan cerita.
Menit 11–13: anak memilih bagian favorit.
Menit 14–15: anak menceritakan kembali apa yang diingat.
Tidak ada target menyelesaikan satu bab.
Yang dibangun adalah pengalaman positif dengan buku.
Bagaimana Mengetahui Minat Baca Anak Mulai Meningkat?
Perubahannya tidak selalu berupa anak tiba-tiba membaca satu jam.
Tanda-tanda kecil justru lebih penting.
Misalnya:
Anak mulai memilih buku sendiri.
Anak meminta dibacakan cerita.
Anak mulai bertanya mengenai isi buku.
Anak mampu menceritakan kembali.
Anak mulai membaca tanpa disuruh.
Anak mulai menghubungkan cerita dengan pengalaman sehari-hari.
Jika tanda-tanda tersebut mulai muncul, berarti kebiasaan positif sedang terbentuk.
FAQ Anak Tidak Betah Membaca
Kenapa anak tidak betah membaca?
Penyebabnya bisa bermacam-macam, seperti buku tidak sesuai minat, tingkat kesulitan terlalu tinggi, lingkungan penuh gangguan, kebiasaan menggunakan gawai yang tidak terkelola, atau membaca selalu dianggap sebagai tugas.
Apakah anak yang lebih suka HP pasti malas membaca?
Tidak. Namun penggunaan gawai yang tidak tepat dapat menjadi distraksi dan memengaruhi konsentrasi belajar, sehingga penggunaannya perlu diatur secara bijaksana.
Bagaimana cara membuat anak suka membaca?
Mulai dari buku yang sesuai minat, durasi pendek, membaca bersama, memberikan pilihan kepada anak, dan membuat kegiatan membaca menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Apakah anak harus membaca 30 menit setiap hari?
Tidak ada satu durasi yang cocok untuk semua anak. Untuk anak yang belum betah membaca, lebih baik memulai dari waktu singkat dan membangunnya secara bertahap.
Bagaimana jika anak hanya mau membaca buku bergambar?
Tidak masalah sebagai langkah awal. Buku bergambar dapat menjadi jembatan menuju bacaan yang lebih kompleks.
Apakah membaca nyaring efektif?
Membaca nyaring atau shared book reading merupakan salah satu praktik literasi keluarga yang didorong karena melibatkan buku, percakapan, bahasa, imajinasi, dan kedekatan orang tua dengan anak.
Haruskah HP dilarang agar anak mau membaca?
Tidak harus. Kebijakan Kemendikdasmen sendiri menekankan pembatasan penggunaan gawai, bukan pelarangan total, dengan penggunaan teknologi tetap dapat mendukung pembelajaran secara terarah.
Anak yang tidak betah membaca selama 5 menit belum tentu malas membaca.
Bisa jadi buku yang dipilih belum sesuai, tingkat kesulitannya terlalu tinggi, lingkungan kurang mendukung, atau anak sudah terlalu terbiasa dengan hiburan digital yang cepat.
Karena itu, jangan langsung memaksa.
Mulailah dengan buku yang disukai anak, waktu membaca yang pendek, membaca bersama, suasana tenang, dan aturan gawai yang konsisten.
Yang paling penting, jangan menjadikan buku sebagai hukuman.
Jadikan buku sebagai tempat anak menemukan cerita, menjawab rasa penasaran, berbicara, berimajinasi, dan menghabiskan waktu bersama orang tua.
Kebiasaan membaca memang tidak terbentuk dalam satu malam. Namun lima menit yang dilakukan secara menyenangkan hari ini bisa menjadi awal dari kebiasaan membaca yang jauh lebih kuat di kemudian hari.
Sumber: Kemendikdasmen mengenai pembatasan penggunaan gawai di satuan pendidikan dan Balai Bahasa Kemendikdasmen mengenai shared book reading.
Post a Comment for "Anak Tidak Betah Membaca 5 Menit? Kenali 7 Penyebab dan Cara Mengatasinya"